Tuesday, October 16, 2012

Ikatan Kimia



BAB I
PENDAHULUAN

I.    1  Latar Belakang
     
 Ikatan kimia adalah sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomik atau poliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai gaya tarik menarik ini sangatlah rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum. Dalam prakteknya, para kimiawan biasanya bergantung pada teori kuantum atau penjelasan kualitatif yang kurang kaku (namun lebih mudah untuk dijelaskan) dalam menjelaskan ikatan kimia. Secara umum, ikatan kimia yang kuat diasosiasikan dengan transfer elektron antara dua atom yang berpartisipasi. Ikatan kimia menjaga molekul-molekul, kristal, dan gas-gas diatomik untuk tetap bersama. Selain itu ikatan kimia juga menentukan struktur suatu zat.
Kekuatan ikatan-ikatan kimia sangatlah bervariasi. Pada umumnya, ikatan kovalen dan ikatan ion dianggap sebagai ikatan "kuat", sedangkan ikatan hidrogen dan ikatan van der Waals dianggap sebagai ikatan "lemah". Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa ikatan "lemah" yang paling kuat dapat lebih kuat daripada ikatan "kuat" yang paling lemah. Elektron yang mengelilingi inti atom bermuatan negatif dan proton yang terdapat dalam inti atom bermuatan positif, mengingat muatan yang berlawanan akan saling tarik menarik, maka dua atom yang berdekatan satu sama lainnya akan membentuk ikatan.
Dalam gambaran yang paling sederhana dari ikatan non-polar atau ikatan kovalen, satu atau lebih elektron, biasanya berpasangan, ditarik menuju sebuah wilayah di antara dua inti atom. Gaya ini dapat mengatasi gaya tolak menolak antara dua inti atom yang positif, sehingga atraksi ini menjaga kedua atom untuk tetap bersama, walaupun keduanya masih akan tetap bergetar dalam keadaan kesetimbangan. Ringkasnya, ikatan kovalen melibatkan elektron-elektron yang dikongsi dan dua atau lebih inti atom yang bermuatan positif secara bersamaan menarik elektron-elektron bermuatan negatif yang dikongsi.

1.   2  Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari percobaan ini adalah:
1.      Membedakan senyawa yang mempunyai ikatan elektrovalen dan ikatan kovalen.
2.      Membedakan reaksi pembentuk kompleks dan bukan kompleks.

1.   3  Prinsip Percobaan
Pada praktikum ikatan kimia kita memperhatikan perubahan yang terjadi atau reaksi yang terjadi pada setiap tabung reaksi. Adapun alat – alat yang digunakan adalah tabung reaksi, gelas piala, dan pipet tetes, sedangkan larutan yang digunakan seperti AgNO3, NaCl, alkohol, CHCl3,CH3COOH, C2H5OH, metil orange, CuSO4, BaCl2, K4Fe(CN)6, K3Fe(CN), FeCl3, dan KCNS. Pada tabung reaksi yang berisi larutan tertentu ditambahkan beberapa tetes indikator untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada ikatan ion dan ikatan kovalen dan menentukan reaksi pembentuk kompleks dan bukan kompleks.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ikatan kimia pada prinsipnya berasal dari interaksi antar elektron-elektron yang ada pada orbit luar, atau orbit yang terisi sebagian atau orbit bebas dalam atom lainya. Semua bentuk ikatan dapat dijelaskan dengan teori kuantum, namun dalam prakteknya, kaidah-kaidah yang disederhanakan mengijinkan para kimiawan untuk memprediksikan kekuatan, arah, dan polaritas sebuah ikatan. Kaidah oktet (Bahasa Inggris: octet rule) dan teori VSEPR adalah dua contoh kaidah yang disederhanakan tersebut. Ada pula teori-teori yang lebih canggih, yaitu teori ikatan valens yang meliputi hibridisasi orbital dan resonans, dan metode orbital molekul kombinasi linear orbital atom (Bahasa Inggris: Linear combination of atomic orbitals molecular orbital method) yang meliputi teori medan ligan. Elektrostatika digunakan untuk menjelaskan polaritas ikatan dan efek-efeknya terhadap zat-zat kimia.( www.benito.staff.ugm.ac.id, ikatan kimia)
Dalam gambaran ikatan ion yang disederhanakan, inti atom yang bermuatan positif secara dominan melebihi muatan positif inti atom lainnya, sehingga secara efektif menyebabkan satu atom mentransfer elektronnya ke atom yang lain. Hal ini menyebabkan satu atom bermuatan positif dan yang lainnya bermuatan negatif secara keseluruhan. Ikatan ini dihasilkan dari atraksi elektrostatik di antara atom-atom dan atom-atom tersebut menjadi ion-ion yang bermuatan.
Ikatan kimia pada prinsipnya berasal dari interaksi antar elektron-elektron yang ada pada orbit luar, atau orbit yang terisi sebagian atau orbit bebas dalam atom lainya.  Dalam interaksi antar atom logam, ikatan kimia dibentuk oleh gaya tarik menarik-menarik elektron oleh inti (nucleus) yang berbeda. Asalnya elektron milik satu atom yang ditarik oleh inti atom tetangganya yang bermuatan +, dan elektron ini disharing dg gaya tarik yang sama oleh inti lain yang mengitarinya. Akibat jumlah elektron valensi yang rendah dan terdapat jumlah ruang kososng yang besar, maka e- memiliki banyak tempat untuk berpindah. Keadaan demikian menyebabkan e- dapat berpindah secara bebas antar kation-kation tersebut. Elektron ini disebut “delocalized electron” dan ikatannya juga disebut “delocalized bonding”. ( www.freewebs.com., ikatan kimia )
II.1  Ikatan Kuat Kimia
Ikatan-ikatan berikut adalah ikatan intramolekul yang mengikat atom-atom bersama menjadi molekul. Dalam pandangan yang sederhana dan terlokalisasikan, jumlah elektron yang berpartisipasi dalam suatu ikatan biasanya merupakan perkalian dari dua, empat, atau enam. Jumlah yang berangka genap umumnya dijumpai karena elektron akan memiliki keadaan energi yang lebih rendah jika berpasangan. Teori-teori ikatan yang lebih canggih menunjukkan bahwa kekuatan ikatan tidaklah selalu berupa angka bulat dan tergantung pada distribusi elektron pada setiap atom yang terlibat dalam sebuah ikatan. Sebagai contohnya, karbon-karbon dalam senyawa benzena dihubungkan satu sama lain oleh ikatan 1.5 dan dua atom dalam nitrogen monoksida NO dihubungkan oleh ikatan 2,5.
Keberadaan ikatan rangkap empat juga diketahui dengan baik. Jenis-jenis ikatan kuat bergantung pada perbedaan elektronegativitas dan distribusi orbital elektron yang tertarik pada suatu atom yang terlibat dalam ikatan. Semakin besar perbedaan elektronegativitasnya, semakin besar elektron-elektron tersebut tertarik pada atom yang berikat dan semakin bersifat ion pula ikatan tersebut. Semakin kecil perbedaan elektronegativitasnya, semakin bersifat kovalen ikatan tersebut.(www.id.wikipedia.org.,ikatan kimia)
II.1.1 Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen adalah ikatan yang umumnya sering dijumpai, yaitu ikatan yang perbedaan elektronegativitas (negatif dan positif) di antara atom-atom yang berikat sangatlah kecil atau hampir tidak ada. Ikatan-ikatan yang terdapat pada kebanyakan senyawa organik dapat dikatakan sebagai ikatan kovalen. Lihat pula ikatan sigma dan ikatan pi untuk penjelasan LCAO terhadap jenis ikatan ini.
Ikatan Dengan Non Logam
Pada prinsipnya semua ikatan kimia berasal dari gaya tarik menarik inti (nucleus) yang bermuatan + terhadap e yang bermuatan negatif, Gaya tarik menarik ini ditentukan oleh Hukum Coulomb.
                                            F =
F              : Gaya tarik menarik atau tolak menolak
              Q1 dan Q: Muatan partikel 1 dan 2
             r               : Jarak antara partikel 1 dan 2
              k              : Konstante dielektrik
Bila Q1 dan Q2 bermuatan sama, maka keduanya akan tolak-menolak, sebaliknya bila Q1 dan Q2 bermuatan berlawanan akan terjadi tarik menarik.
Ikatan kovalen terbentuk, karena hampir semua unsur memiliki ruang kosong dan orbit luar berenergi rendah. Makin rendah energi suatu orbit, nakin tinggi stabilitas elektron yang ada di dalamnya. Semua unsur non-logam memiliki paling tidak 4 dari 8elektron yang mungkin berada pada orbit luar, kecuali: H, He, dan B. Perbedaan unsur non-logam dengan logam adalah tidak memiliki kelebihan ruang kosong yang berenergi rendah untuk penyebaran elektron yang akan disharing. Elektron yang dapat disharing dalam unsur non-logam tidak mengalami “delocalised” seperti pada ikatan metalik (ikatan logam). Jadi elektron ini tinggal terlokalisir dalam kedekatan antar 2 inti (ikatan kovalen).( benito.staff.ugm.ac.id, ikatan kimia)
Contoh: pembentukan H2 dari 2 atom H. Pada molekul H2 ada 3 gaya yang bekerja yaitu:
a)      Gaya tolak-menolak antara 2 inti
b)      Gaya tolak-menolak antara 2 elektron
c)      Gaya tarik-menarik antara inti dari satu atom dengan elektron dari atom yang lainnya. Besarnya gaya c ini lebih besar dari jumlah gaya a dan b.
II.1.2  Ikatan Ion  
Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk akibat gaya tarik listrik (gaya Coulomb) antara ion yang berbeda. Ikatan ion juga dikenal sebagai ikatan elektrovalen. Ikatan ini berasal dari gaya tarik elektrostatik antara ion yang bermuatan berlawnan [Kation (+) dan anion (-)] (Hukum Coulomb). Untuk sebagian besar unsur, proses pelepasan atau penambatan elektron adalah proses endotermik (membutuhkan energi). Ini berarti bahwa bentuk ion adalah kurang stabil dibandingkan atom yang tak bermuatan.
        Na           Na+  +  (-)  -  energi
   ½O2 +  2 (-)             O-2  -  energi
Senyawa yang memiliki derajat paling tinggi dalam ikatan ionik adalah yang terbentuk oleh reaksi antara unsur alkali dengan halogen.
         Contoh:   Na  +  Cl          NaCl.
 Keduanya memiliki perbedaan elektronegativitas yang besar, sehingga pasangan elektron yang membentuk ikatan lebih banyak tertarik oleh atom Cl.
Makin besar perbedaan elektro-negativitasnya makin besar pula karakter ioniknya. Namun ada kekecualian untuk F dan Cs, F memiliki elektro-negativitas paling kuat, sedang Cs memiliki elektro-negativitas paling lemah, sehingga ikatannya tidak sepenuhnya ionik. Bagaimanapun juga ikatan kovalen murni ada dalam molekul yang tersusun oleh molekul yang sama (H2, Cl2, C-C) atau molekul yang tersusun dari atom yg memiliki elektro-negativitas yang hampir sama, contoh: C-H. ( www.psb-psma.org., ikatan ion dan ikatan kovalen)
Senyawa yang mempunyai ikatan ion antara lain :
a)      Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA)
Contoh : NaF, KI, CsF
b)      Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : Na2S, Rb2S,Na2O
c)      Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : CaO, BaO, MgS
Sifat umum senyawa ionik :
1)      Titik didih dan titik lelehnya tinggi.
2)      Keras, tetapi mudah patah.
3)      Penghantar panas yang baik.
4)      Lelehan maupun larutannya dapat menghantarkan listrik (elektrolit).
5)      Larut dalam air.
6)      Tidak larut dalam pelarut/senyawa organik (misal : alkohol, eter, benzena).

            Dari bermacam-macam ikatan dapat disimpulkan sbb:
a)      Senyawa dengan ikatan kovalen yang dominan, elektron dari ikatan berada pada atom yang membuat ikatan. Diantara molekul yang berbeda ada ikatan yang lemah yang disebut “gaya van der Waals”. Hal yang sama terjadi untuk senyawa dengan “ikatan kovalen koordinat”. Molekul yang berbeda membentuk satuan-satuan yang terpisah. Dalam molekul ini jarak antar atom dalam molekul lebih kecil dari jarak antara atom dan molekul didekatnya.
b)      Senyawa dengan ikatan metalik dan ionik yang dominan, ikatan itu dibuat oleh elektron-elektron yang disharing. Dalam logam gaya tarik berasal dari “delocalised electron”, sedang dalam senyawa ionik berasal dari gaya tarik menarik antara ion positif dan negatif. Dalam senyawa ini, partikel-partikel bermuatan diposisikan pada jarak yg sama satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada kemungkinan untuk membedakan atau memisahkan molekul yang utuh (discrete). Dalam logam, setiap atom biasanya diposisikan pada jarak yang sama dari 6, 8 atau 12 atom yang lainnya yang menunjukkan bahwa ikatan dengan seluruh atom-atom yang berbeda ini memiliki kekuatan yang sama.
Semua bentuk ikatan dapat dijelaskan dengan teori kuantum, namun dalam prakteknya, kaidah-kaidah yang disederhanakan mengijinkan para kimiawan untuk memprediksikan kekuatan, arah, dan polaritas sebuah ikatan. Kaidah oktet (Bahasa Inggris: octet rule) dan teori VSEPR adalah dua contoh kaidah yang disederhanakan tersebut. Ada pula teori-teori yang lebih canggih, yaitu teori ikatan valens yang meliputi hibridisasi orbital dan resonans, dan metode orbital molekul kombinasi linear orbital atom (Bahasa Inggris: Linear combination of atomic orbitals molecular orbital method) yang meliputi teori medan ligan. Elektrostatika digunakan untuk menjelaskan polaritas ikatan dan efek-efeknya terhadap zat-zat kimia.
II.    2  Elektron Pada Ikatan Kimia
Banyak senyawa-senyawa sederhana yang melibatkan ikatan-ikatan kovalen. Molekul-molekul ini memiliki struktur yang dapat diprediksi dengan menggunakan teori ikatan valensi, dan sifat-sfiat atom yang terlibat dapat dipahami menggunakan konsep bilangan oksidasi. Senyawa lain yang mempunyai struktur ion dapat dipahami dengan menggunakan teori-teori fisika klasik.
Pada kasus ikatan ion, elektron pada umumnya terlokalisasi pada atom tertentu, dan elektron-elektron todal bergerak bebas di antara atom-atom. Setiap atom ditandai dengan muatan listrik keseluruhan untuk membantu pemahaman kita atas konsep distribusi orbital molekul. Gaya antara atom-atom secara garis besar dikarakterisasikan dengan potensial elektrostatik kontinum (malaran) isotropik.
Sebaliknya pada ikatan kovalen, rapatan elektron pada sebuah ikatan tidak ditandai pada atom individual, namun terdelokalisasikan pada MO di antara atom-atom. Teori kombinasi linear orbital yang diterima secara umum membantu menjelaskan struktur orbital dan energi-energinya berdasarkan orbtial-orbital dari atom-atom molekul. Tidak seperti ikatan ion, ikatan kovalen bisa memiliki sifat-sifat anisotropik, dan masing-masing memiliki nama-nama tersendiri seperti ikatan sigma dan ikatan pi. Atom-atom juga dapat membentuk ikatan-ikatan yang memiliki sifat-sifat antara ikatan ion dan kovalen. Hal ini bisa terjadi karena definisi didasari pada delokalisasi elektron. Elektron-elektron dapat secara parsial terdelokalisasi di antara atom-atom. Ikatan sejenis ini biasanya disebut sebagai ikatan polar kovalen. Lihat pula elektronegativitas.
Oleh karena itu, elektron-elektron pada orbital molekul dapat dikatakan menjadi terlokalisasi pada atom-atom tertentu atau terdelokalisasi di antara dua atau lebih atom. Jenis ikatan antara dua tom ditentukan dari seberapa besara rapatan elektron tersebut terlokalisasi ataupun terdelokalisasi pada ikatan antar atom.



BAB III
METODE PERCOBAAN

III.    1  Bahan

1)      NaCl                                        8)  K3Fe(CN)6                     15) FeCl3
2)      AgNO3                                                                  9)  HCl
3)      CHCL3                                          10)  M.O
4)      KCN                                      11) BaCl2
5)      CH3COOH                            12) K4Fe(CN)6
6)      CCL4                                              13)  CuSO4
7)      C2H5OH                                 14)  NH4OH

III.    2  Alat

1)      Tabung reaksi, digunakan sebagai tempat untuk mereaksikan zat – zat.
2)      Rak tabung, tempat untuk menyimpan tabung reaksi.
3)      Pipet tetes, alat yang digunakan untuk mengambil larutan sedikit demi sedikit dari sebuah wadah.
4)      Gelas piala, tempat untuk menyimpan atau mereaksikan larutan.

III.    3  Prosedur Percobaan
1)      Siapkan 3 buah tabung reaksi. Masing – masing tabung reaksi diisi dengan 1 ml AgNO3. Tabung (1) ditetesi dengan NaCl, tabung (2) dengan CCl4/Alkohol, dan tabung (3) dengan CHCl3, masing – masing sebanyak 3 – 5 tetes. Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.
2)      Siapkan 3 buah tabung reaksi. Tabung (1) diisi dengan HCl, tabung (2) dengan CH3COOH dan tabung (3) dengan C2H5OH, masing – masing sebanyak 2,5.  Selanjutnya, setiap tabung reaksi ditetesi dengan indicator Metil orange (MO). Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.
3)      - Siapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan 1 ml CuSO4. Masing – masing tabung ditetesi dengan larutan amonia sampai tidak terjadi endapan. Tabung reaksi (1) ditambah dengan larutan BaCl2, tabung (2) dengan K4Fe(CN)6, masing – masing 2 – 3 tetes. Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.
-Siapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan 1 ml CuSO4. Tabung (1) ditambah dengan BaCl2 dan tabung (2) dengan K4Fe(CN)6  masing – masing 2 – 3 tetes. Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.
4)  Siapkan 2 buah tabung reaksi. Tabung reaksi (1) diisi dengan FeCl3 dan tabung (2) dengan K3Fe(CN)masing – masing 1 ml. Ke dalam tabung (1) dan (2) ditambahkan 2 – 3 tetes KCNS. Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.    1  Hasil
IV.    1. 1  Tabel Pengamatan
1)      Pengendapan garam sulfat
Larutan
Ditambah AgNO3
Keterangan
NaCl
Warnanya keruh, terdapat endapan.
Larutan bereaksi membentuk ikatan ion.
CCL4
Warnanya tetap terdapat 2 fase
Larutan tidak bereaksi (ikatan kovalen)
CHCl3
Warnanya tetap
Larutan tidak bereaksi (ikatan kovalen)

2)      Reaksi dengan indikator  metal orange (MO)
Larutan
Ditambah MO
Keterangan
HCL
Merah terang, terdapat endapan
Larutan bereaksi (asam kuat)
CH3COOH
Merah tua, terdapat endapan
Larutan bereaksi (asam lemah)
CH3CH2OH
Orange bening, tidak terdapat endapan
Larutan bereaksi, ikatan ion

3)      Pengendapan garam hidroksida
Larutan
Ditambah pereaksi
Keterangan
BaCl2
K4Fe(CN)6
CuSO4  + NH4OH sedikit
Berwarna biru muda, terdapat endapan putih.
Berwarna biru, terdapat endapan coklat.
Bereaksi dan merupakan senyawa kompleks
CuSO4  + NH4OH berlebih
Berwarna biru muda, terdapat banyak endapan
Berwarna biru muda terdapat banyak endapan coklat.
Bereaksi dan merupakan senyawa kompleks
CuSO4




4)      Pengendapan garam hidroksida
Larutan
Ditambah KCNS
Keterangan
FeCl3
Merah bata
Bereaksi (senyawa komleks)
K4Fe(CN)6
Kuning kehijauan
Tidak bereaksi

IV.  2  Reaksi
1.  NaCl           +          AgNO3                              AgCl         +          NaNO3
    CCl4                                +          AgNO3                                tidak bereaksi
    C2H5Br        +          AgNO3                                              tidak bereaksi
2.  Tidak perlu
3.  a. CuSO4    +    NH4OH (sedikit)                               (NH4)2SO4    +   Cu(OH)2
         CuSO4     +   NH4OH (berlebih)                             
   (X)………………..  +   BaCl2                                      
   (X)………………... +  K4Fe(CN)6                                      
b.  CuSO4      +     BaCl2                                        BaSO4      +     CuCl2
     CuSO4      +      K4Fe(CN)6                                      
4.  FeCl3          +          3KCNS                             Fe(CNS)3      +     3KCl
      K4Fe(CN)6 +          KCNS                             
IV. 3  Pembahasan
             Pada praktikum kali ini ada 4 macam pengamatan yaitu:
1)  Pengendapan garam sulfat
            Pada percobaan ini larutan yang digunakan adalah NaCl, CCL4, dan CHCl3. Kemudian masing – masing ditambahkan AgNO3. Hasilnya pada NaCl + AgNO3, warnanya keruh dan terdapat endapan , larutan pun bereaksi menghasilkan ion sehingga disebut terjadi ikatan ion. Pada CCl4 + AgNO3, warnanya tetap, larutan tidak bereaksi tapi terdapat 2 fase sehingga disebut ikatan kovalen. Pada CHCl3 + AgNO3, dimana tidak terjadi perubahan warna dan disebut ikatan kovalen.
2)  Reaksi indikator metil orange
            `percobaan ini menggunakan tiga buah tabung reaksi, dimana tabung reaksi pertama diisi dengan HCl, tabung reaksi (2) dengan CH3COOH, dan tabung (3) dengan CH3CH2OH. Pada saat tabung reaksi pertama ditetesi dengan metil orange, larutan bereaksi dengan berubah warna menjadi merah terang dan terdapat endapan hal ini karena HCL merupakan asam kuat. Pada tabung kedua ditetesi juga dengan metal orange, larutan bereaksi dengan berubah warna menjadi nmerah tua dan terdapat endapan, larutan membentuk ikatan ion. Ketika tabung ketiga ditetesi dengan metal orange larutan bereaksi dengan berubah warna orange bening, tetapi tidak terdapat endapan karena kelarutanya lebih tinggi.
3)  Pengendapan garam hidroksida
            Ada 6 buah tabung reaksi yang berisi larutan CuSO4 masing – masing sebanyak 1 ml. pada 2 tabung reaksi pertama ditambahkan dengan NH4OH sedikit, sepasangnya lagi ditambahkan dengan NH4OH berlebih, dan sepasang terakhir tidak ditambahkan apapun. Pada saat sepasang tabung reaksi pertama masing – masing diisi dengan BaCl2 dan K4Fe(CN)6, didapatkan larutan yang berubah menjadi berwarna biru muda terdapat endapan berwarna putih, sedangkan yang berubah menjadi warna biru terdapat endapan warna cokelat,kedua tabung reaksi membentuk ikatan ion dan merupakan senyawa kompleks. Pada sepasang tabung reaksi berikutnya yang berisi larutan NH4OH berlebih dan ditetesi dengan larutan seperti dengan cara diatas, didapatkan  tabung reaksi yang memiliki warna biru muda terdapat endapan berlebih, dan yang satu lagi memiliki warna yang sama yaitu biru muda dan banyak endapan, kedua tabung reaksi ini terdapat banyak senyawa kompleks.
Pada sepasang tabung reaksi yang terakhir yang hanya berisi larutan CuSO4 yang ditetesi dengan larutan seperti diatas, masing - masing mengalami perubahan warna menjadi biru muda. Ada yang terdapat endapan putih, ada juga yang terdapat endapan coklat,larutan ini merupakan senyawa kompleks.
4)  Pengendapan garam hidroksida
            Pada percobaan ini didapatkan FeCl3  +  KCNS, mengalami reaksi dan berubah warna menjadi merah bata, sedangkan pada larutan K4Fe(CN)6  +  KCNS tidak mengalami reaksi tetapi hanya berubah warna menjadi kuning kehijauan ini membuktikan larutan pertama membentuk ikatan ion dan larutan kedua membentuk ikatan kovalen.


     
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.    1  Kesimpulan
Dari praktikum kali ini dapat ditarik kesimpulan yaitu :
1)      Ikatan kovalen merupakan ikatan yang tidak bereaksi dengan logam dengan kata lain cuma menghasilkan  2 fase seprti yang terjadi pada larutan CCl4 (alkohol) dengan larutan CHCl3.
2)      Ikatan ion merupakan ikatan yang dapat bereaksi dengan logam seperti pada larutan NaCl, HCl, CH3COOH, dan CH3CH2OH.
3)      Senyawa kompleks merupakan senyawa yang akan terurai menjadi kation dan anion kompleks atau kation kompleks dengan anionya, akibatnya ada anion kompleksnya seperti pada larutan CuSO+  NH4OH yang dapat bereaksi dan merupakan senyawa kompleks.
4)      Senyawa bukan kompleks adalah  senyawa yang akan terurai menjadi ion – ion pembentuk senyawa tersebut. Seperti pada larutan FeCl3 + KCNS yang tidak dapat bereaksi.
V. 2  Saran
       Sebelum melakukan praktikum tentang ikatan kimia hendaknya mahasiswa harus memahami tentang senyawa – senyawa yang termasuk ikatan ion dan ikatan kovalen agar pada percobaan nanti tidak terjadi kekeliruan. Mahasiswa dalam melakukan praktikum haruslah benar – benar mengamati reaksi yang terjadi. Untuk asisten yang mendampingi praktikan haruslah lebih baik dalam mengawasi dan menuntun praktikan dalam melakukan praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

UPT-MKU. 2011. “Jurnal Praktikum Kimia Dasar”. Universitas Hasanuddin : Makassar.
UPT-MKU. 2011. “ Penuntun Praktikum Kimia Dasar”. Universitas Hasanuddin : Makassar.

1 komentar: